<!-- --><style type="text/css">@import url(https://www.blogger.com/static/v1/v-css/navbar/3334278262-classic.css); div.b-mobile {display:none;} </style> </head><body><script type="text/javascript"> function setAttributeOnload(object, attribute, val) { if(window.addEventListener) { window.addEventListener('load', function(){ object[attribute] = val; }, false); } else { window.attachEvent('onload', function(){ object[attribute] = val; }); } } </script> <div id="navbar-iframe-container"></div> <script type="text/javascript" src="https://apis.google.com/js/plusone.js"></script> <script type="text/javascript"> gapi.load("gapi.iframes:gapi.iframes.style.bubble", function() { if (gapi.iframes && gapi.iframes.getContext) { gapi.iframes.getContext().openChild({ url: 'https://www.blogger.com/navbar.g?targetBlogID\x3d1574632008568096036\x26blogName\x3dBudakPEMALAS\x26publishMode\x3dPUBLISH_MODE_BLOGSPOT\x26navbarType\x3dBLUE\x26layoutType\x3dCLASSIC\x26searchRoot\x3dhttp://aqidamsyar.blogspot.com/search\x26blogLocale\x3den_GB\x26v\x3d2\x26homepageUrl\x3dhttp://aqidamsyar.blogspot.com/\x26vt\x3d4889051296568924402', where: document.getElementById("navbar-iframe-container"), id: "navbar-iframe" }); } }); </script>




stories biography archives


Intro


AQIDAMSYAR
Melakar nama, Mencari Dunia.
Sesat Sendiri, Mula Lupa Diri
Berhenti Dipersimpangan,
Melihat Kebelakang
Mahu diri kembali.
Pulang


Tuesday, 3 May 2016
Ayah
Ingat lagi suatu ketika dulu
Kau pernah mengatakan sayang.
Ayah
Pernah masa dulu
Kau memberikan kasih mu
Walau aku tidak meminta
Ayah
Pernah suatu masa dulu
Kau kelihatan bimbang dengan kesihatanku.
Walau aku cuba smbunyikan semuanya

Tapi
Semua tu hilang sudah
Kau pergi tanpa sebab
Kau pergi dengan keadaan aku yang belum bersedia

Ayah
Aku terlalu ingin menyentuh susuk tubuh mu itu
Aku terlalu ingin menyentuh lmbut pipi mu itu
Kembalilah wahai Ayah
Aku merindukan kasih sayang mu
Sesungguhnya kasih mu tiada gantinya

Mana perginya kasih sayang mu?
Mana perginya kerisauanmu?
Aku merindui semuanya duhai Ayah

Tiap detik yang berlalu
Aku menanti kamu kembali
Tiap detik yang berlalu
Aku menunggu panggilanmu
Dan tiap detik yang berlalu itu
Aku mnunggu kau menyebut namaku

Terlalu rindu untuk mendengar kau menyebut namaku
Terlalu rindu untuk membiar kau mengusap rambut ku
Terlalu rindu rasanya untuk makan makanan suapan dari tanganmu wahai Ayah.
Dan aku terlalu rindu untuk kau memeluk erat tubuhku ini.
Kembali lah duhai ayah
Aku sentiasa menanti kamu
Aku sentiasa menunggu panggilan mu
Aku tak mampu untuk menghubungi
Aku tak mampu untuk pulang menjengukmu
Ayah
Ambillah aku kembali
Aku mohon wahai ayah
Ambil aku kembali bersama mu
Aku rapuh ditinggalkan sendri
Aku rapuh terkapai kapai sendiri
Jujur aku tak kuat tanpa mu duhai Ayah
Kau seperti tulang belakang ku
Bagaimana harus aku teruskan perjalanan ini tanpa tulang belakang ku
Macam mana aku nak teguh berdiri jika aku tiada tulang belakang
Kembali lah duhai Ayah
Ambil lah aku kembali
Pungutlah aku kembali
Aku tak kuat ayah
Aku tak kuat

Ingat tak suatu masa dulu kau sering memeluk erat tubuh ku saat aku kesakitan
Ingat tak suatu ketika dulu kau pernah peluk tubuh ini dan menyatakan padaku
"Kuat lah anakku. Walid sentiasa ada"
Aku rindukan pelukan itu duhai ayah
Aku ingin mendengar kembali bisikan itu
Kembalilah wahai ayah
Aku mohon
Kembal untuk memberi aku kekuatan
Aku makin rapuh tanpa kamu, tulang belakang ku.

Kembalilah padaku ayah
Kembali untuk memeluk tubuh ini saat aku kesakitan
Tiada siapa yang memeluk lagi tubuh ini saat aku mengerang kesakitan
Saat aku menangis kesakitan
Kembali lah Ayah
Ambil aku kembali.
Kembali pulang dan memungut aku kembali

Mana janji mu ayah utuk sentiasa bersama ku
Mana janji yang kau sebutkan saat aku terlantar tu
Mana Ayah?
Mana hilang semuaya
Kau padamkan smua lakaran yang telah kau sendri buat
Dan kau pulangkan pada aku hanya kertas kosong
Mana hilang semuanya duhai Ayah?
Aku inginkan semua lakaran itu
Tolong corakkan semula buat aku.
Aku mohon ayah.


Official Template By BudakPEMALAS